Tentang KEADILAN
Ave Maria, Where is the justice in this world?
The wicked make so much noise, mother..
The righteous stay oddly still
Of the chosen who will not have to fight




Apakah substansi (ousiai) Mas Tanto?, begitu pertanyaan saya sepanjang hari itu. Guna menjawab pertanyaan ini saya meminjam jawaban Aristoteles atas Platon (“Plato”, dalam artikulasi sebagai Platon dalam bahasa Belanda) gurunya, Mas Tanto adalah hal-hal yang mendasari (hupokeimenon) karena ia ‘berada di bawah’ berbagai hal universal yang termanifestasi dalam dirinya (the ultimate subject of predication). Seperti yang terjadi tiga hari yang lalu, doa saya untuk tiga hari peringatan meninggalnya Mas Tanto saya wujudkan dalam monolog pembacaan saya atas dirinya yang kini, sudah bebas dari belenggu (penjara) tubuh inderawinya.
Kehidupan Bagi Mas Tanto adalah Petualangan Batin (Askesis)
Aksesis Mas Tanto mirip dengan kaum creationist yang memberikan perspektif secara radikal; berbuat baik adalah wajib, berempati pada kaum papa adalah keharusan, karena ada Pencipta, dan bahkan Pencipta itu sendiri melakukan hal-hal itu untuk dicontoh ciptaanNya. Maka sungguh tindakan yang absurd apabila dalam kejatuhan ada manusia yang mengatakan sedang “dicobai” oleh Penciptanya. Sungguh apabila kejatuhan manusia itu karena dicobai oleh Penciptanya, maka menurut askesis yang dilakukan Mas Tanto, Pencipta itu pasti lemah. Ketika Dia jatuh, maka eksistensiNya sebagai “yang tunggal” gugur. Dengan demikian ia tidak percaya terhadap absurditas itu. Ketidak percayaannya adalah konsekuensi rasional atas keyakinannya. Setidaknya itulah yang tercermin atas pilihan-pilihan tindakan yang dilakukannya, menghasrati kehidupan batin dengan bermati raga. Rumah untuk kambingnya jauh lebih “mewah” daripada rumah tinggalnya.
Dunia selalu dikritik oleh Mas Tanto. Dunia dalam perkembangannya semakin tidak memberikan nilai pada kehidupan. Dunia yang selalu di kritik itu seakan menjadi unheimlich (tidak hospitable lagi) bagi dirinya dan manusia. Dalam konteks pertanian, seperti dalam kesaksian yang diberikan saat Misa Requiem, Mas Tanto menyatakan bahwa pertanian saat ini adalah agrisida, pertanian racun (membunuh) yang membasmi umat manusia demi kapital.
Kata-kata bagi Mas Tanto adalah refleksi atas kesatuan keseluruhan atas kehendak, pemikiran, dan tindakan. Tidak ada kehendak dan tindakan yang lahir bukan dari sebuah ide. Maka bagi dirinya tidak ada tindakan tanpa nilai. Ide seperti yang pada pemikiran jaman pra sokratik, ide digambarkan oleh Platon dalam alegori gua yang terkenal itu. Ide adalah intelegible, sempurna, diatas dari keinderawian yang tampak dan secara instan dapat dinikmati. Mas Tanto merawat ide itu setiap harinya. Perawatan itu tampak dalam setiap pertemuan pribadinya dengan siapapun. Tujuannya satu, melawan absurditas berfikir yang menyerahkan semuanya pada mainstream yang berdaya bunuh itu.
Jiwa (psykê) adalah immortal begitu kata Platon. Imortalitas jiwa merujuk pada yang tunggal, yang menggerakan keseluruhan “gerakan”. Yang tunggal sebagai the unmoved mover atau the prime mover pada filsafat pra sokratik. Meskipun ia menggeluti pemikiran Nietzche (1844-1900) pemikirannya tidak terperangkap dalam pikiran Allah mati secara harafiah. Kematian akan Tuhan dipahami sebagai perasaan terisolir, yaitu ketika nilai-nilai yang datang dari luar tidak dapat dipercaya. Seperti etikanya Immanuel Kant (1742-1804) yang menolak Allah sebagai obyek dalam filsafat skolastik Thomas Aquinas, ide atas etika Kant menempatkan Allah sebagai rujukan dan bukan pengetahuan. Maka tidak heran bila, dalam pandangan etisnya, doa menjadi absurd apabila dilakukan sebagai bagian dari pengetahuan bukan sebagai proses askesis, latihan batin untuk memurnikan jiwa. (Ritual) doa bagi Mas Tanto adalah wujud kemalasan untuk bertindak (bergerak), dan juga bukan atas kepatuhan kepada hukum dan Allah.
Pertanian sebagai Pilihan Etis Atas Pemihakan
Semenjak lulus kuliah dan kemudian “berpetualang”, Mas Tanto bertani organik. Bertani organik ini sebenarnya adalah keharusan substansi. Pertanian organik secara harafiah berkaitan erat dengan kehidupan semua makhluk. Kata “organik” itu sendiri sarat makna interaksi kehidupan. Konsep dasar bertani adalah mengelola transaksi energi. Transaksi energi berarti menerima dan membagi energi. Jika ada pertanian anorganik, maka itu bukan pertanian. “Jika tanah tidak bisa disebut makhluk, maka tanaman adalah makhluk yang paling mulia, karena dia memberikan keseluruhan hidupnya bagi makhluk lain”, demikian kata Mas Tanto pada suatu ketika.
Yang berlebih memberi, dan yang membutuhkan akan menerima, demikian energi itu mengalir dalam keseimbangan semesta. Dan itulah “teleologi” yang seharusnya berjalan. Dunia mempunyai tujuan yang berfungsi sedemikian rupa, sehingga perkembangan dunia sama sekali tergantung pada tujuan. Hal ini berarti setiap makhluk akan bergerak secara alamiah, dari potesi menuju actus, untuk merealisasikan “titahnya”. Hal ini bukan suatu kebetulan, karena gerakan semesta dalam perjalanan mencapai tujuannya (“telos” dalam kata teleologi). Oleh karenanya alam semesta bergerak dalam harmoninya dengan perbedaan titah yang dimilikinya. “Alam bertindak sebagai seorang tuan rumah yang baik, karena tidak membuang apapun yang dapat digunakan lagi”, demikian pernyataan Aristoteles dalam bukunya De generatione animalium. Alam tidak membuat sesuatupun dengan sia-sia saja dan tidak membuat sesuatu (secara) berkelebihan (Aristoteles dalam De Caelo). Itulah rasional atas Hukum Kekekalan Energi (yang kemudian disebut Hukum Thermoninamika I).
Harmoni gerakan alam dalam keseimbangan menuju tujuan. Keseimbangan yang lahir bukan karena kesamaan namun atas dasar perbedaan. Itulah yang dirawat Mas Tanto hingga akhir hidupnya. Mas Tanto merawat perbedaan agar setiap makhluk mengaktualisasi diri atas potensinya, bergerak dalam transaksi energi untuk mencapai eudaimonia (kebahagiaan) semua makhluk. Tanpa perbedaan gerakan tidak pernah ada. Dan konsep inilah yang disebut “kesejatian” atau “keutamaan” (arête) dalam filsafat Aristoteles. Hanya pemikiran yang disertai keutamaan dapat membuat manusia menjadi bahagia. Pertanian bukan semata persoalan bercocok tanam.
Kegiatan Mas Tanto dalam pertanian bukan tiba-tiba. Nama Tanto (de) Hobo adalah bagian “buah” petualangannya di Sumatera Utara sebelum tinggal bergelut dalam realitas bertani di Yogyakarta. Dalam sharingnya, Mas Tanto banyak diberikan “warna” filsafat bertani ketika singgah di Candi Dasa-Bali bersama (alm) Ibu Gedong Bagoes Oka. “Yang makan adalah hak bagi yang bekerja”, begitu katanya pada suatu ketika. Mengapa? Karena lapar adalah konsekuensi atas kebutuhan energi. Energi secara etis harus diperoleh melalui gerakan, karena energi terlepas karena gerakan.
Tangisan itu bagian parsial dari keseluruhan universalitas nafas Tuhan dalam keseluruhan kehidupan. Tangisan adalah kerendahan sikap terhadap yang tunggal, yang utama. Dan itu ditunjukkan dalam pahatan di nisan ibundanya, yang dilakukan sendiri yang berbunyi, “Ngabekti Konjok ing Gusti Mangku Urip Sejati” (Berbakti kepada Tuhan Memangku Hidup Sejati). Sekali lagi hal itu konsisten dengan pilihan lagu yang selalu disenandungkannya dengan berkaca-kaca, dan menjadi lagu pembukaan dalam Misa Requiemnya:
Amba Pratiknya
Amba pratiknya mring Gusti,
Sakit dumugeng tiwas,Atas semuanya, diakhir tulisan saya yang belum juga selesai, saya hanya bisa
mengucap “Sembah nuwun konjuk ing Gusti”, Engkau telah “berikan” Mas Tanto dalam kehidupan saya.***
Jakarta, 17 Januari 2011
Koko

by Kiki Emeralda on Monday, January 10, 2011 at 1:49pm
baru sekali ini mbak bakul sedino nulis 2 note, jarang jarang, dan memang pak tiffy yang bisa membuat mbak bakul begitu...
tulisan ini bukan bermaksud menyudutkan pak tiffy dan orang2 yang setuju dengan kebijakan beliau, dan bukan untuk memecah belah dan jajahlah (elingo iku politik kompeni biyen hahahaha)
cuma ini adalah tulisan ungkapan ke getunan dari seorang ibu rumah tangga yang membakul dan karena dia hidup di jaman sekarang, maka bakul memanfaatkan teknologi... :)
dan oh iya, kalo misalnya ada nyandak nyandak dengan ilmu komunikasi dan mbak bakul ndak pandai berteori, mohon mangap :) mbak bakul wayah e kuliah memang lebih sergep di meja makan prasmanan ketimbang duduk anteng di bangku mendengarkan kuliah hahahaha
langsung saja yoooo :) apa yang menarik dengan pak tiffy? jawabannya berkaitan dengan twitter :) kadang saya mau bilang, pak jennengan itu mentri lho, eh mbok ya ojo twat twit twat twit :) tapi mungkin eranya beda, mentri juga butuh twitter untuk mengetahui seperti apa respon rakyat, bahkan mungkin semua anggota dpr kudune juga twitteran? ben negara ini menjadi negara kesatuan yang berbentuk twitter :) cukup twit dan semua selesai :)
kadang ya...saya berpikir, jenenge komunikasi itu kan intine adalah, ada yang menyampaikan, ada yang mendengarkan, ada pesan yang disampaikan dan ada saluran yang digunakan, dan oh iya satu lagi, gangguan yang menyebabkan pesan menjadi terdistorsi (weeee sangar yooo teorine hahahaha) makanya, saya agak gumun dengan pak tiffy ini, saluran twitter ini jan jane untuk komunikasi bagaimana? formal kah? begejekan kah? atau batasan formal dan begejekan memang sudah ndak ada di dunia maya dan di situs situs jejaring sosial? kalo saya sebagai bakul yo ndak popo, la wong rakyat jelata, lha nek mentri, opo yo kenek nyampur ngono, begejekan dalam memberikan informasi yang penting, kalau memang begitu jangan jangan, pernah juga dilakukan memberikan informasi ndak penting dalam bahasa sing resmi :)
lalu berkaitan dengan RIM, saya mambengi sampe tidur malem karena membaca twit2 tentang rim, bojo sudah tidur, jadi saya aman buat online, dan saya menemukan hwaaaaa ruame pol, ada komentar2 yang begejekan, nggilani, serius apatis dan entah ada lagi, dan ada juga yang mendukung pak mentri namanya indrapiliang, dan saya baru tau kalau beliaunya ini dadak tokoh ngetop ya :)
yang menjadi catatan saya adalah 1. rim harus menyensor konten pornografi...ini saya agak bertanya tanya, lho laopo kok rim sing di kongkon? kenapa kok ndak kita saja yang menyensor, jadi begitu masuk di indonesia yo wis ndak bisa diakses, mestine ancaman terhadap rim dan pornografi ini boleh dilakukan kalo misalnya kita orang indonesia sudah memblokir porno dadak rim membuka sak enak udel e, lah nek ngene masalah e boleh lah mengatakan enough is enough, lah nek endonesah e dewe ndak jajal nutup akses lha kok ngongkoni wong, nek rim e njawab "eh siapa elo?" trus piye? nah jare pak indrapialang mobil aja ada sim nya, la black berry kan di pake anak sd jadi memang hal ini harus dilakukan :)
yang saya tanyakan ada berapa anak sd yang pake bb, dan ada berapa luasan yang sudah terkena layanan 3G di indonesia sehingga pornografi bisa di akses? setahu saya cuma batam, jakarta dan surabaya, itupun belum merata, dengan kata lain kota2 sedang atau pinggiran kota, masih nderenges dengan fasilitas yang begitu :)
trus nyandak masalah nasionalisme, jangan sampai pihak asing menginjak2 indonesia, kita harus menekan mereka membuat server disini, dan menyerap tenaga kerja indonesia... lah wong wong iki lali tah, nek kita menekan sebuah badan berarti kita punya nilai tawar yang tinggi, atau kalo ndak kita akan bicarakan dengan mereka dengan memberitahukan keuntungan yang akan mereka dapatkan kalo mereka pasang server dan menghire orang indonesia, lah ikilak wong dagangan, nek itungane pek pok tak jamin gak ono sing gelem budal lah :) mbak bakul ae nek ono pesenan tapi pekpok dan ndak akan ada repeat order yo emoh, masak mbakul oleh kemmeng thok :) eh mbok ya ngomong apik apik an lah, nego begitu, sana untung, sini untung, sana butuh sini butuh nek methenteng karepe dewe yo angel lah :)) nek RIM trus ngomong gak pathik en rek dengan indonesia trus kene ditinggal? oh yo ndak popo nek bangsa indonesia sudah membuat teknologi alternatif secanggih bb, saya malah seneng dengan produksi sendiri, podo misal e nek dikon milih nggawe batik dengan kain sari, saya yo milih batik, karena gaweane bangsa dewe :)
yang terakhir yang menjadi catatan adalah : upaya itu (ancaman kepada RIM atau apalah namanya) dilakukan untuk mendisiplinkan perusahaan perusahaan... ini yang mebuat saya ngguyu ngenes, tertawa satir... pak pak, kok njenengan umek mau mendisiplinkan perusahaan asing, nek wong wong e dewe jik blakrak :) disiplin opo? patuh pada peraturan? trus peraturan e sopo? peraturane kene? la sing melaksanakan peraturan iku wis nggenah kabeh tah pak? lapindo wis beres tah? mentawai wis balik asal tah? jogja wis beres tah? oalah :)
saya bukan warga negara yang paling baik, tapi saya berusaha sebaik mungkin dadi warga negara, buktine, saya masih mau ikut pemilu, memilih yang terbaik diantara pilihan pilihan yang nganeh2i, saya tetep percaya bahwa bangsa ini masih akan bangkit, saya juga masih percaya (meskipun jan iki goblokku dewe) bahwa yang jahat di pemerintahan itu adalah oknum....
dari nge twit dan kebanggan bangsa, aku cuma ngarep, mbokya wong wong iku podo gennah gennahan :)
mugo2 kabeh anggepanku salah, bahwa komunikasi memang bisa dilakukan di channel atau saluran mana saja demi hasil yang lebih baik, yo dungakno hasile selalu lebih baik yo pak tiffy....